No Bra Day Trending, Wajib Tahu Asal-Usul Pemakaian Kutang di Tanah Air

ilustrasi wanita memakai bra. (pexels.com/Matteo Petralli) || 

JAKARTA-SARERHEA, Setiap tanggal 13 Oktober, wanita di seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Bra Nasional atau No Bra Day. Bukan untuk tujuan asusila ataupun mesum, No Bra Day merupakan kampanye kesadaran akan bahaya dari kanker payudara.


Dikutip dari laman Tirto.id, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Bulan Kesadaran Kanker Payudara, yang diperingati di negara-negara seluruh dunia setiap bulan Oktober, membantu meningkatkan perhatian dan dukungan untuk kesadaran, deteksi dini dan pengobatan serta perawatan kanker payudara. 


Tercatat ada sekitar 1,38 juta kasus baru dan 458.000 kematian akibat kanker payudara setiap tahun berdasarkan data yang dikeluarkan IARC Globocan pada 2008 lalu.


Kanker payudara sejauh ini merupakan kanker paling umum pada wanita di seluruh dunia, baik di negara maju maupun berkembang. 


Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kejadian ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena peningkatan harapan hidup, peningkatan urbanisasi dan adopsi gaya hidup barat.


Bra atau dalam bahasa Indonesia disebut kutang merupakan benda yang dipakai oleh wanita untuk menutup payudaranya. 


Pada zaman dahulu, wanita Indonesia mengandalkan kemben untuk menutupi bagian atas tubuhnya termasuk payudara. Namun, jauh sebelum itu, mereka hanya mengenakan kain penutup tubuh saja. 


Saat zaman Hindia Belanda, wanita yang berjalan di muka umum tanpa mengenakan penutup dada merupakan hal yang biasa. meski para wanitanya tak mengenakan penutup bagian atas hal itu  tak mendatangkan birahi pada pria di Indonesia. Masalah birahi justru muncul di kalangan pria Belanda. lambat laun dari itu, muncul nama kutang.


Bra masuk di Nusantara karena pengaruh dari wanita Belanda yang menggunakannya. Mereka bermukim di Indonesia sejak tahun 1920-an. Lidah orang Indonesia saat itu menyebut BH. Kemudian, banyak juga yang mengucapkannya sebagai kutang.


Hal itu merujuk pada novel berjudul Pangeran Diponegoro karangan Remy Sylado. Di buku itu, Remy menjelaskan asal-muasal istilah kutang. Saat itu, dalam proyek pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan, Belanda mempekerjakan budak perempuan dan laki-laki. Don Lopez, seorang pejabat Belanda, melihat budak perempuan bertelanjang dada.


Dia kemudian memotong secarik kain putih dan memberikannya kepada salah seorang di antara mereka sembari berkata dalam bahasa Prancis: “tutup bagian yang berharga (coutant) itu.” 


Berkali-kali dia mengatakan “coutant.. coutant”, hingga oleh para pekerja terdengar sebagai kutang dan lambat laun hingga sekarang bra di Indonesia disebut dengan kutang. (era/red/tal

Post a Comment

Previous Post Next Post